Orang Bejat: Dekat dengan kematian ternyata tidak membuat seseorang lebih religius. Justru sebaliknya.

Agustus 06, 2026

Di ambang kematian, Michel memutuskan meninggalkan hidup yang selama ini diyakininya benar. Sejak saat itu, setiap pilihan menjadi pertaruhan antara hasrat, kebebasan, dan konsekuensi yang tak selalu mampu ia tanggung. Simak resensi buku Orang Bejat selengkapnya berikut ini.

•••


Identitas buku:

Judul: Orang Bejat

Judul asli: L’Immoraliste (The Immoralist)

Penulis: André Gide

Penerjemah: Reinitha Amalia

Penerbit: Taman Moooi Pustaka

Tahun: 2024

Jumlah: 176 halaman

ISBN: 978-623-88376-5-6

Kategori: Fiksi, novel, homoseksual, pengabaian, moralitas


•••


Blurbnya:

“Kenangan tak bisa diawetkan. Kenangan paling rapuh akan gugur, kenangan paling kuat akan membusuk; kenangan terindah adalah kenangan paling berbahaya untuk hari depan. Hal-hal yang kita sesali selalu indah pada awalnya.”


Pengalaman hampir mati karena tuberkulosis, dengan penuh keangkuhan menyeret Michael ke kehidupan penuh aktivitas hedonistik. Ia menolak norma-norma masyarakat. Ia terpikat pada vitalitas anak-anak muda Arab selama masa pemulihannya di Afrika Utara. Pencarian Michel akan kebenaran dan kebebasan membawanya mempertanyakan batasan moralitas dan esensi kehidupan, yang pada akhirnya menantang pembaca untuk merenungkan sifat amoralitas. Novel ini merupakan refleksi mendalam tentang penemuan diri dan pemberontakan terhadap nilai-nilai konvensional. André Gide memperoleh anugerah Nobel Kesusastraan tahun 1947.


•••


Resensinya:

Novel ini sederhana dalam cerita, tetapi rumit dalam pertanyaan yang ditinggalkannya. Melalui Orang Bejat (The Immoralist), André Gide membawa pembaca mengikuti perubahan hidup Michel, seorang akademisi yang mengalami titik balik setelah jatuh sakit dan berada di ambang kematian. Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Hal-hal yang sebelumnya dianggap penting, seperti naskah kuno, sejarah, dan dunia akademik, tiba-tiba kehilangan daya tariknya. Michel ingin menjadi manusia baru dan menjalani hidup berdasarkan apa yang benar-benar ia inginkan.


Kisah ini disampaikan melalui bingkai naratif berbentuk surat. Seorang sahabat Michel menceritakan seluruh perjalanan hidupnya kepada seorang perdana menteri dengan harapan Michel dapat dibantu keluar dari keterpurukan yang sedang dihadapinya. Dari sanalah pembaca mengikuti perjalanan Michel bersama istrinya, Marceline, melintasi berbagai negeri. Di setiap tempat yang disinggahi, Michel perlahan meninggalkan nilai-nilai yang selama ini membentuk dirinya. Dia mulai mengeksplorasi hasrat, mempertanyakan moralitas yang diwariskan kepadanya sejak kecil, sekaligus mencari bentuk kehidupan yang menurutnya lebih jujur, spontan, dan bebas.


Perubahan itu bukan lahir karena Michel membenci moralitas. Justru pengalaman berada begitu dekat dengan kematian membuatnya mempertanyakan seluruh cara hidup yang selama ini dijalaninya. Di hadapan kematian, berbagai aturan, tata krama, dan berbagai kewajiban sosial yang sebelumnya terasa penting mendadak kehilangan makna. Dia ingin menjalani hidup berdasarkan keinginannya sendiri, mengikuti naluri, bukan lagi berdasarkan apa yang dianggap benar oleh masyarakat.


Di sinilah pergulatan utama Orang Bejat. Michel ingin menjadi dirinya sendiri, tetapi dia tetap hidup di tengah masyarakat yang memiliki batas-batas moral. Dia ingin bebas, tetapi kebebasan tersebut tidak dapat dijalankan sepenuhnya tanpa konsekuensi. Di hadapan Marceline, dia masih tampil sebagai suami yang dikenal istrinya, sementara diam-diam dia terus mengeksplorasi sisi dirinya yang selama ini ditekan. Kebebasan yang diimpikannya justru menuntut kepura-puraan, sesuatu yang justru menjadi salah satu ironi terbesar dalam pencariannya akan kebebasan. Makin ingin hidup secara autentik, makin besar pula jarak yang tercipta antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya.


Gide juga menghadirkan seksualitas sebagai bagian dari pergulatan Michel dalam memahami dirinya. Ketertarikannya kepada anak-anak laki-laki yang ditemuinya menjadi bagian dari eksplorasi hasratnya. Namun, novel ini tidak berhenti pada persoalan orientasi seksual. Hasrat Michel justru membawa pembaca pada pertanyaan yang lebih sulit: apakah segala sesuatu yang kita inginkan layak untuk diikuti hanya karena itu terasa autentik? Sampai di mana kebebasan seseorang dapat dijalankan sebelum berbenturan dengan kebebasan dan hak orang lain?


Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat Orang Bejat terasa lebih kompleks daripada kisah tentang seseorang yang sekadar memberontak terhadap norma. Michel memang berusaha melepaskan diri dari nilai-nilai yang diwariskan kepadanya, tetapi ketika seluruh batasan tersebut dijalani, dia justru tidak menemukan kehidupan yang dicari. Kebebasan yang dibayangkannya justru menghadirkan keterasingan, kehampaan, dan kehancuran emosional. Gide menunjukkan bahwa membuang semua batas tidak serta-merta membuat manusia lebih bebas ataupun lebih bahagia.


Paradoks inilah yang membuat novel ini menarik. Michel ingin hidup mengikuti kehendaknya sendiri, tetapi akhirnya justru terjebak dalam kegamangan. GGide tidak pernah mengatakan apakah Michel benar atau salah. Ia juga tidak membela pemberontakannya, tetapi tidak pula menjatuhkan vonis moral. Pembaca dibiarkan menyaksikan pilihan-pilihannya beserta seluruh konsekuensinya.


Dari segi penceritaan, Orang Bejat memiliki alur maju yang relatif sederhana, tetapi bergerak perlahan sehingga bagi sebagian pembaca terasa lambat. Gide membangun cerita melalui perubahan cara berpikir tokoh utamanya, membawa pembaca mengikuti proses berpikir, pergulatan, penemuan, hingga kegalauan Michel dari awal hingga akhir. Perjalanan Michel dari satu tempat ke tempat lain berubah menjadi perjalanan batin untuk menemukan dirinya sendiri. Perubahan lanskap, cuaca, dan suasana turut mengikuti perubahan emosi dan cara pandangnya terhadap kehidupan. 


Orang Bejat lebih cocok untuk pembaca yang menikmati novel psikologis dan filsafat, maupun pencinta bacaan klasik. Novel ini mempertanyakan hubungan antara kebebasan individu, hasrat, dan moralitas. Melalui Michel, Gide mengajak pembaca memikirkan kembali sejauh mana nilai-nilai yang kita yakini benar-benar lahir dari diri sendiri, dan sejauh mana ia dibentuk oleh keluarga, agama, maupun sosial/masyarakat.


Gide tidak pernah mengatakan apakah Michel benar atau salah. Ia hanya menunjukkan bahwa hidup mengikuti moral belum tentu membuat manusia bahagia, tetapi hidup tanpa moral juga tidak menjanjikan hal yang sama. Barangkali persoalannya bukan memilih di antara keduanya, melainkan menerima bahwa menjadi manusia selalu berarti hidup di antara batas-batas yang tak pernah benar-benar selesai.


Sebab, apakah hidup secara autentik selalu berarti hidup secara benar? Dan menurutmu, bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidupnya?


•••


Kutipannya:

Percuma saja kita tahu membebaskan diri; yang sulit adalah mengetahui cara hidup dalam kebebasan. (Hal. 9)


Akhirnya aku sadar bahwa dalam pernikahan, monolog telah usai. (Hal. 14)


Lagi pula apa yang bisa ditawarkan oleh kehidupan ini untukku? Aku telah bekerja dengan baik sampai akhir, memenuhi tugasku dengan penuh tekad dan hasrat. (Hal. 19)


Kesehatan adalah kewajibanku. (Hal. 26)


Aku harus berjuang melawan segalanya: keselamatanku bergantung pada diriku sendiri. (Hal. 28)


Tiada yang lebih tragis bagi orang yang merasa hampir mati karena sakit, selain pemulihan yang berlangsung lambat. Setelah aku disentuh oleh sayap-sayap maut, semua yang tampak penting untukku kini tak penting lagi; hal-hal lain yang sepertinya tidak penting, bahkan yang selama ini tak kusadari keberadaannya, menjadi penting. Tumpukan yang melapisi jiwa, berupa kumpulan segala pengetahuan, mengelupas bagai riasan, dan di sana-sini memperlihatkan ketelanjangan, kulit sejati, dari makhluk yang tersembunyi di baliknya. (Hal. 48)


Karena makhluk selalu menyesuaikan dirinya, baik terhadap kekuatan ataupun kelemahan; makhluk membentuk diri seturut daya-daya yang dia miliki. (Hal. 49)


Karya-karya terbaik manusia selalu berisi kepedihan. Apakah kisah bahagia itu? Tidak ada, kecuali cerita tentang keadaan yang mengawalinya, lalu keadaan yang menghancurkannya. (Hal. 64)


Tidak mungkin seseorang menjadi sungguh-sungguh tulus sekaligus terlihat tulus. (Hal. 87)


Lagipula apa yang aku maksud dengan “hidup”? Justru itulah yang ingin aku ketahui. Orang-orang saling berbincang dengan fasih soal berbagai peristiwa dalam kehidupan, tapi tak pernah berbincang soal pendorong dibalik semua ini semua itu. (Hal. 87)


Aku menyukai suatu kehidupan yang lebih lapang dan leluasa, tidak terkungkung oleh orang lain, dan tidak memikirkan orang lain; bagiku rahasia ini jauh lebih misterius: rahasia milik seseorang yang telah bangkit dari kematian, pikirku, sebab aku bagaikan manusia aneh di antara semua orang, seperti manusia yang kembali dari dunia yang mati. (Hal. 89)


Kita perlu membiarkan orang lain merasa benar. Itu membuat mereka tenang, karena mereka tak punya hal lain. (Hal. 90)


Aku tak bisa menuntut setiap orang untuk memiliki sifat-sifat baikku. Sudah bagus jika sifat-sifat burukku ada pada diri mereka. (Hal. 92)


Kepemilikan benda mendorong orang untuk beristirahat, dan ketika merasa aman, mereka terlena. (Hal. 95)


Kalau aku tidak terlalu peduli pada persetujuan atau ketidaksetujuan manusia, itu bukan karena aku sendiri ingin menyetujui atau tidak menyetujui; kedua kata itu tidak ada artinya bagiku. (Hal. 95)


Sayangnya, ucapan seringkali menjadi tak berarti saat disandingkan dengan perbuatan! (Hal. 96)


Setiap orang menyatakan diri sebagai pribadi yang berbeda jauh dari pribadi mereka sesungguhnya. Setiap orang mengambil sebuah pola, kemudian menirunya; dia bahkan tidak memilih pola yang ditirunya itu; dia menerima begitu saja pola yang telah dipilihnya untuknya. Tapi, aku yakin masih ada hal-hal lain yang bisa dibaca dari seorang manusia. Hanya saja, orang tidak berani. Orang tidak berani melakukan sesuatu yang baru. Ini hukum imitasi; aku menyebutnya hukum ketakutan. Orang takut mendapat dirinya hanya sendirian: karenanya, dia tidak bisa menemukan siapa dirinya …. Memang manusia selalu seorang diri ketika dia menciptakan sesuatu. Tapi, siapakah di sini yang ingin mencipta? Yang dirasakan dalam diri sendiri sebagai sesuatu yang berbeda, itulah kepunyaan yang langka, yang memberi nilai kepada setiap manusia–dan itu yang ingin mereka hilangkan. Orang-orang ini meniru, dan mereka masih juga mengaku bahwa mereka mencintai kehidupan. (Hal. 99-100)


Alangkah berbahayanya bahwa kebahagian kami telah digantungkan pada harapan belaka! Terlebih, harapan akan masa depan yang tak pasti! (Hal. 102)


Ada ribuan bentuk kehidupan, masing-masing kita hanya bisa mengenal salah satunya. Cemburu atas kebahagiaan orang lain, itu perbuatan gila; kita tak mungkin tahu apa gunanya kepada orang lain untuk kita. Kebahagiaan tidak hadir dalam keadaan siap pakai, melainkan terukur sesuai diri. (Hal. 104)


Kenangan tak bisa diawetkan. Kenangan paling rapuh akan gugur, kenangan paling kuat akan membusuk; kenangan terindah adalah kenangan paling berbahaya untuk hari depan. Hal-hal yang kita sesali selalu pindah pada awalnya. (Hal. 106)


Penyesalan, rasa bersalah, pertobatan, adalah sukacita masa lalu yang dipandang dari belakang. (Hal. 106)


Dalam sebuah keluarga, semua berhak melakukan yang diinginkan, tapi bukan urusan orang lain. (Hal. 121)


Kita bertanggung jawab atas semua yang kita miliki. Kita mesti melaksanakan tanggung jawab itu dengan serius dan tidak bermain-main … atau kita tidak dapat dikatakan layak memiliki apa pun. (Hal. 130)


Namun, bukankah aku berkuasa memilih apa yang kuinginkan, dan memutuskan apa yang ingin kukehendaki? (Hal. 148)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts